Cerita Inspirasi dari Orang Lain

Selama ini saya terinspirasi oleh kehidupan saya. Saya berada di antara teman-teman saya yang hidup glamour dan mengikuti zaman. Entah kenapa saya tidak seperti mereka yang gaul itu. Saya merasa kepercayaan diri saya kurang. Saya merasa kecil di antara mereka. Untungnya mereka sangat menghargai saya dan tidak memaksa saya untuk seperti mereka. Walaupun mereka sangat baik dan menerima saya apa adanya tetapi tetap saja saya juga ingin seperti mereka yang up to date dengan perkembangan zaman. Memang sih nasib saya berbeda dengan mereka. Untuk menginginkan sesuatu saya tidak berani meminta ke orang tua jika itu memang bukan kepentingan sekolah. Saya harus menabung dulu agar bisa mendapatkan barang yang saya ingikan. Selain mendapat teman yang sangat mengerti keadaan saya yang seperti itu, saya pun mempunyai orang tua yang hebat. Mereka mengajarkan kepada saya bagaimana hidup mandiri. Cara menghadapi kehidupan yang saat ini semakin keras. Saya di ajarkan untuk menjadi anak yang disiplin dan tidak manja. Ketika saya baru lulus SMP, saya melihat perjuangan mereka yang gigih untuk membiayai saya masuk ke SMA negeri. Ibu saya yang mempunyai usaha cathering sampai bersemangat memasak pesanan orang lain yang jumlahnya tidak sedikit itu demi membayar uang gedung sekolah saya. Bapak saya yang seorang PNS rela tabungan nya di pakai utuk membiayai saya. Ketika saya disulitkan dengan beberapa masalah, mereka selalu membangun semangat saya sehingga beban pikiran berkurang.

Setiap saya bermain dengan teman-teman saya itu, saya merasa dihargai. Dan saya pun berusaha menghargai mereka. Begitu pun ketika saya dirumah, orang tua saya sangat menghargai usaha setiap anak-anaknya, seperti membantu pekerjaan di rumah sampai nilai-nilai di sekolah. Saya semakin bersemangat untuk membuat orang tua saya bangga. Dan saya pun tidak mau membuat teman-teman saya malu. Masa dengan penampilanku yang tidak gaul ini, aku juga malu-maluin? Ih ngge banget deh.

Terbukti ketika saya menjuarai perlombaan cepat tepat di sebuah sekolah, membawa piala pulang kerumah. Betapa bangganya orang tua saya. Teman-teman saya juga sangat mendukung saya dan walaupun hanya berbekal memenangkan lomba itu, kepercayaan diri saya meningkat dan saya semakin semangat meraih prestasi yang lebih baik lagi. Itu semua untuk teman-temanku dan orang tuaku yang selalu mendukungku dan menghargaiku

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Cerita Inspirasi Pribadi

Nama   : Wulan Dwi Ayuning Putri

NRP    : E44100041

Laskar  : 24

Suatu hari seorang anak bertanya kepada ibunya, “Ibu, kenapa kalau aku meminta suatu barang tidak pernah langsung dibelikan?”. Pertanyaan itu sangat membuat ibunya tertegun, karena Ia bingung anak semata wayangnya tiba-tiba bertanya seperti itu. Sang ibu pun menjawab,“Sayang, keadaan kita tidak seperti orang lain, kita hidup serba kekurangan. Mengapa kau bertanya seperti itu nak? Tidak biasanya kamu bertanya seperti itu.”. anak itu pun menjawab,”Aku malu bu, sepatuku sudah sangat usang dan dekil. Teman-temanku suka meledekku karena sepatuku itu, aku malu. Apakah ibu masih mengingat permintaanku waktu itu? Untung saja Sinta selalu menemaniku”. sang ibu sedih mendengar cerita anaknya itu. ”Baiklah, lusa akan ibu belikan ya nak, ibu sudah berusaha menabung dan kebetulan besok ibu mendapat gaji, bersabarlah sedikit,” jawab itu dengan senyuman. Anak itu pun hanya mengangguk.

Ira, begitulah panggilan nya. Ia anak tunggal dari sebuah keluarga yang tidak mampu. Ayahnya meninggal ketika Ia masih kelas 1 SD. Ibunya bekerja sebagai pembantu di sebuah rumah elit yang letaknya tidak jauh dari rumah. Sekarang Ira sudah kelas 4 SD, dan Ia mempunyai seorang teman dekat bernama Sinta yang sudah lama menjadi teman sebangkunya.

Setiap hari setelah Ira sudah bangun tidur, ibunya pergi bekerja ke rumah elit tersebut. Sarapan selalu sudah tersedia ketika Ira bangun. “Ira, ibu pergi dulu ya,” ibunya berkata sebelum berangkat. “Iya bu, hati-hati.”. Ibu nya pun berangkat dan Ira membereskan tempat tidurnya. Waktu memang masih pukul 5 pagi, setelah membereskan tempat tidur Ira pun membuka buku pelajarannya. Begitulah rutinitas Ira sebelum bersiap-siap berangkat sekolah. Ira memang anak yang rajin belajar

Di sebuah rumah elit, seorang anak kecil baru bangun tidur. Anak tersebut dibangunkan oleh pembantunya. “Apa sih bi Asih, masih ngantuk tau!” jawab anak itu kesal. “Sudah siang non, ayo siap-siap ke sekolah” bibi pun berbicara pelan. Setelah lama membujuk akhirnya anak itu terbangun. Selesai membangunkan anak majikannya bibi pun mengepel lantai. Sang bibi mengepel dengan telaten, dia harus berhati-hati karena banyak barang-barang antik yang dipajang disana.

Selesai mengepel pun sang bibi berniat membereskan peralatan mengepelnya dan “brugg!” tiba-tiba anak majikannya tidak sengaja menubruk sang bibi karena terburu-buru sampai sang bibi oleng dan terjatuh, dan “prang!!” terdengar sebuah guci jatuh dan pecah. Anak itu hampir saja terjatuh dan berkata “Ah bibi halangin aku aja! Liat tuh guci mama jadi pecah!”. Sang bibi pun panik “Aduh non bibi kaget, aduh guci mahal ini…”. Tiba-tiba majikannya datang “Ada apa ini?”. Sang anak pun berkata,”Itu bi Asih mecahin guci mama! Suruh ganti ma!”. Anak itu tidak mengaku kalau dia yang menyenggol bi Asih. Pembantu itu pun terlihat ketakutan dan berkata,”Maaf nyonya saya tadi oleng dan tidak sengaja menyenggol guci nyonya”. Sang majikan memerhatikan gelagat pembantunya. Ia pun hanya tersenyum, “ya sudah, tidak apa-apa bi. Sebagai gantinya bulan ini kamu tidak saya gaji ya”. “iya nyonya tidak apa-apa, sekali lagi maafkan saya nyonya”, sang bibi meminta maaf dan langsung beranjak sambil membawa peralatan pel. “Lain kali kamu ga boleh seperti itu, tidak sopan!” kata sang majikan kepada anaknya. “iya ma” jawab anaknya

Keesokan harinya Ira berjalan dengan tidak bersemangat. Sinta pun heran, biasanya Ia melihat Ira datang dengan wajah bersemangat. “Ada apa Ra? Ko kamu terlihat lemas sekali?” Tanya Sinta ketika Ira duduk. “Aku tidak jadi beli sepatu, padahal rencana hari ini ibu mau membelikanku sepatu baru,” jawab Ira sedih. “Loh kenapa tidak jadi Ra?”. “Kemarin ibuku memecahkan guci dirumah elit itu, tempat ibuku bekerja. Yang ada malah ibuku harus mengganti rugi dan Dia tidak mendapatkan gaji. Kasihan ibuku, sedihku dobel deh.”. mendengar cerita Ira, Sinta pun tersentak. Ia kembali teringat kejadian kemarin pagi di rumahnya ketika pembantunya memecahkan guci milik ibunya. “emang ibumu bekerja dimana?”. Selama ini Sinta memang tidak pernah bertanya tentang keluarga Ira, begitupun sebaliknya. Ira tidak pernah bertanya tentang keluarga Sinta. ”Ibuku bekerja di sebuah rumah elit. Aku tidak tau rumahnya dimana, ibu tidak pernah memberitahu,” jawab Ira. Sinta semakin ingin tahu, Ia pun bertanya “nama ibumu siapa Ra kalo boleh tau?”. Ira heran mendapat pertanyaan seperti itu,” ibu Asih, kenapa San?”. Santi semakin terkejut. Ternyata pembantu dirumahnya itu ibu dari teman dekatnya sendiri, Ira. Ia sama sekali tidak tahu. Santi tidak pernah bertemu ibunya Ira di sekolah. Setiap pembagian raport pun ibu Ira selalu datang paling terakhir karena banyak pekerjaan. Orang tua mereka tidak pernah bertemu. Santi pun langsing memeluk  Ira dan berkata,”Iraaaa maafkan akuu, aku tidak tahu kalau dia ibumu. Aku minta maaf ya…”. Ira semakin terheran dan bertanya,”ada apa sih Sinta? Aku ngga ngerti deh”. “Ternyata pembantu dirumahku itu adalah ibumu, bi asih. Kemarin dia memang tidak sengaja memecahkan guci itu Ra, dan yang salah itu aku, tapi aku ngga berani bilang ke mama. Aku yang tidak sengaja menubruk bi Asih karena terburu-buru Ra. Ibumu bekerja dirumahku.. maafkan aku Raa..” kata Sinta masih memeluk Ira. Ira terkejut, sempat ada rasa kesal terlintas karena Sinta telah menjadikan ibunya sebagai kambing hitam. Tetapi perasaan itu langsung Ia buang karena Sinta sudah meminta maaf dengan sungguh-sungguh. “Iya San aku maafin, tapi kamu juga harus jujur ya ke ibumu dan meminta maaf ke ibuku.”. Santi melepas pelukannya dan tersenyum, “pasti Ra,pasti aku lakuin!”

Pagi hari, ketika anak majikan bi Asih terbangun, Ia langsung menghampirinya di dapur. Saat itu sang mama pun ada di dapur sedang membuat minuman. “bi Asih aku mau minta maaf ya atas kejadian tempo hari, aku udah nabrak bibi sampe jatuh dan menyenggol guci mama. Sebenernya aku yang salah ma, bukan bi Asih, maafkan aku juga ma”. Bi Asih dan mama pun kaget, lalu sang bibi berkata,”Iya non ngga apa-apa..”. dan mamanya pun berkata,”jadi gitu toh ceritanya. Sinta, mama bangga sama kamu.” Sang mama menghampiri dan memeluknya. “jangan dipotong ya ma gajinya, kasian kan bi Asih mau beliin sepatu buat anaknya. Kalo gajinya dipotong berarti ngga jadi beli dong.” Bi Asih pun kaget dan berkata,”loh non ko bisa tahu? Bibi kan ngga pernah cerita non.”. iya bibi ngga pernah cerita, tapi anak bibi kan sebangku denganku. Ko bibi ngga pernah bilang kalau punya anak yang sebaya sama aku?”. Bi Asih tesenyum dan berkata,”Bibi hanya ingin kalian saling tahu sendiri tanpa harus ada yang memberitahu,termasuk bibi.”. “ya sudah bi, gaji bibi tidak jadi saya potong. Sebagai gantinya, uang jajan Santi mama kurangi selama seminngu karena telah berbohong.”. Santi terlihat sedih, tetapi dia bisa menerima itu “iya ma ngga apa-apa.”

2 hari kemudian Ira pun ke sekolah dengan memakai sepatu baru. Ia terlihat sangat senang. Begitu masuk ke kelas Ia pun langung menghampiri Santi. “Makasih ya San, kamu memang teman terbaikku.” Kata Ira sambil memeluk Santi. “Sama-sama Ira, kita kan temaaaaaan”. Mereka pun berpelukan.

Posted in Uncategorized | Leave a comment